Pengenalan “Holistic Safety Leadership Coaching” bagi Para Safety Leaders (oleh Coach Eddy dari SHE Care Indonesia)

Menuju Indonesia Berbudaya K3 Tingkat Dunia di Tahun 2020-2025

Pengenalan “Holistic Safety Leadership Coaching” bagi Para Safety Leaders (oleh Coach Eddy)

Banyak kegiatan telah dilaksanakan, tapi tak banyak yang dipikirkan.

Banyak kegiatan yang telah dipikirkan, tapi tak banyak yang dirasakan.

Banyak kegiatan yang telah dirasakan, tapi tak banyak yang dibagikan.

Banyak kegiatan yang telah dibagikan, tapi tak banyak yang diikhlaskan.

Semoga Allah terus meningkatkan 5 kecerdasan & kesadaran kita.

Aamiin.  Aamiin. Ya rabbal alamiin.

-Quote – Coach Eddy – SHE Care Indonesia-  

Mengapa harus dengan “Safety Coaching”?

Sebagai seorang “Safety Leader” (Pemimpin Keselamatan) di suatu tempat kerja/peru-sahaan/organisasi, maka tentunya kita menginginkan agar semua orang yang kita pim-pin atau yang menjadi pengikut (followers) kita mampu dan mau menjalankan perintah, petunjuk, arahan, atau bimbingan kita.  Maunya sich tak ada yang tak mampu untuk melakukan perintah-perintah kita selaku atasan atau pimpinan mereka.  Bahkan mungkin kita akan jengkel atau marah bilamana ada bawahan atau pengikut kita yang tak mau menjalankan perintah-perintah kita tersebut.

Tak jarang seorang Safety Leader akan jengkel dan bahkan naik pitam bila mengetahui ada bawahannya yang tak mampu memahami dan menjalankan tugas-tugas yang telah dia berikan, yang dalam pandangannya mungkin beranggapan bahwa tugas-tugas tsb sangatlah mudah untuk dipahami, dimengerti dan dijalankan. Yang menurut ukurannya mungkin tak memerlukan Kecerdasan Intelektual yang tinggi.  Permasalahan atau tan-tangan ini sering kita temukan di lapangan, termasuk di dunia K3 sekitar kita.

Untuk mengatasi permasalahan atau tantangan yang berupa gap antara Kecerdasan In-telektual yang dimiliki oleh Sang Bawahan dengan Kecerdasan Intelektual yang diharap-kan oleh Sang Pimpinan, maka sebenarnya dapat dengan mudah diselesaikan melalui pemberian Pelatihan K3 (Safety Training) kepada Sang Bawahan tsb, sehingga yang ber-sangkutan dapat meningkatkan Pengetahuan (Knowledge) dan Ketrampilan (Skill) nya, yang pada akhirnya akan dapat menyelesaikan tugas-tugas K3 yang diberikan oleh Sang Pemimpin K3 (Safety Leader) tersebut.

Mungkin lebih sering lagi seorang Safety Leader akan jengkel dan marah-marah bila mengetahui ada bawahannya yang tak mau menjalankan tugas-tugas yang telah dia berikan, walaupun dia ketahui bahwa sesungguhnya Sang Bawahan tersebut telah memahami dan mengerti tentang bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas K3 tsb.  Namun karena sikap (attitude) nya yang kurang baik, dapat saja dia tak mau menjalankan tugas-tugas K3 yang telah diperintahkan atau diarahkan oleh Sang Pemimpin K3 (Safety Leader) tsb.  Permasalahan atau tantangan semacam ini kemungkinan lebih sering kita temukan di lapangan, termasuk di dunia K3 sekitar kita.

Untuk mengatasi permasalahan atau tantangan yang berupa gap antara Kecerdasan Emosional yang dimiliki oleh Sang Bawahan dengan Kecerdasan Emosional yang diharap-kan oleh Sang Pimpinan, maka sesungguhnya hal ini tak dapat dengan mudah diselesaikan melalui pemberian Pelatihan K3 (Safety Training).  Sebab Pelatihan K3 umumnya hanya efektif untuk meningkatkan Kecerdasan Intelektual Sang Bawahan, namun tak akan efektif untuk meningkatkan Kecerdasan & Kesadaran Emosional & Spiritual nya.  Berdasarkan pengalaman penulis selama lebih dari 25 tahun, yang berkecimpung di dunia KP (Keselamatan Pertambangan) di Perusahaan Tambang (lebih dari 18 tahun) dan di Perusahaan Jasa Pertambangan (lebih dari 7 tahun), maka untuk meningkatkan Sikap (Attitude) nya, para Bawahan yang “bandel” tersebut perlu diberikan Bimbingan K3 (Safety Coaching), sehingga Sikap (Attitude) nya bisa meningkat, yang pada akhirnya akan mau dengan senang dan ikhlas menyelesaikan tugas-tugas K3 yang diberikan oleh Sang Pemimpin K3 (Safety Leader) kepadanya.

Apa itu “Safety Coaching”?

Mengacu pada penjelasan atau uraian di atas, maka metoda pembelajaran Safety Train-ing (Pelatihan Keselamatan), yang dilakukan oleh seorang Pelatih Keselamatan (Safety Trainer), dapat dan efektif digunakan untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan/atau keterampilan (skill) para peserta pelatihan (Trainee).  Namun bilamana yang di-tuju adalah terciptanya peserta didik yang juga memiliki sikap (attitude) yang profesional, sehingga penjadi lulusan pembelajaran yang kompeten, maka yang diperlukan adalah metoda pembelajaran Safety Coaching (Bimbingan Keselamatan).

Selanjutnya mungkin kita akan bertanya: “Apa yang dimaksud dengan Safety Coaching?”. Kemudian kita mungkin juga akan melanjutkan pertanyaan: “Apa bedanya Safety Training dan Safety Coaching?”

Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut secara bersamaan, maka tabel berikut di bawah ini, saya harapkan dapat memberikan gambaran perbedaan antara Safety Training (Pelatihan Keselamatan) dan Safety Coaching (Bimbingan Keselamatan).  Dimana perbedaannya akan kita lihat dari 3 (tiga) aspek, yakni:

  1. Aspek Peserta Didik;
  2. Aspek Pendidik;
  3. Aspek Tujuan Pendidikan; dan
  4. Aspek Proses Pendidikannya.
NO ASPEK SAFETY TRAINING SAFETY COACHING
1 Peserta Didik Disebut “Trainee” Disebut “Coachee”
a Mulai Pratama Mulai Madya atau Utama
b Belum Tahu Sudah Tahu
c Mau Tahu Tak Mau Tahu
d Perlu Keseriusan Perlu Keceriaan
2 Petugas Didik Disebut “Trainer” Disebut “Coach”
a Banyak Tahu Banyak Mau Tahu
b Pendidik yang Aktif Peserta Didik yang Aktif
c Memberi Tahu Mencari Tahu & Memotivasi
3 Tujuan Pendidikan Tujuan Pelatihan Tujuan Bimbingan
a Peningkatan P + K Peningkatan P + K + S
b Menjadi Tahu & Trampil Menjadi Kompeten
4 Proses Pendidikan Proses Pelatihan Proses Bimbingan
a Perlu Kecerdasan IQ + PQ Perlu Kec. PQ+IQ+EQ
b Pakai Neo Cortex + AT Pakai NC+AT+Limbic System
c Pendekatan Logika Pendekatan Logika + Rasa
d Mudah Menguap/Lupa Tak Mudah Lupa
e Berupa Pernyataan Berupa Pertanyaan

Tabel-1.  Daftar “4 Aspek Perbedaan Safety Training Vs Safety Coaching” oleh Coach Eddy

Dari Tabel-1 di atas, dapat kita lihat secara jelas perbedaan antara Safety Training (Pelatihan Keselamatan) dan Safety Coaching (Bimbingan Keselamatan) berdasarkan 4 (empat) aspek yang ada, yakni: Aspek Peserta Didik, Petugas Didik, Tujuan dan Proses Pendidikannya.

Dari Tabel-1 di atas, juga dapat kita simpulkan apa yang dimaksud dengan Safety Coaching.  Dimana “Safety Coaching” (Bimbingan Keselamatan) adalah salah satu jenis Teknik Pendidikan atau Teknik Pembelajaran Keselamatan yang melibatkan Peserta Bimbingan (Coachee) dan Petugas Pembimbing (Coach) melalui proses bimbingan dengan bebera-pa persyaratannya, guna mencapai tujuan bimbingan yang diinginkan, yakni terciptanya para “Safety Leaders” yang kompeten, yakni yang memiliki PKS (Pengetahuan, Keteram-pilan dan Sikap) yang cukup, sehingga mereka bisa bertugas atau berkarya secara profe-sional.

Apa itu “Holistic Safety Leadership Coaching”?

Setelah kita mengetahui batasan tentang “Safety Coaching”, maka terlebih dahulu kita harus dapat mendifinisikan apa yang dimaksud dengan “Holistic Safety Leadership”, sebelum sampai akhirnya dapat menyimpulkan apa yang dimaksud dengan “Holistic Safety Leadership Coaching” dan arti pentingnya bagi para “Safety Leaders” kita.

Holistic Safety Leadership” adalah gaya kepemimpinan keselamatan yang berbasis pada 5 jenis kecerdasan yang kita miliki secara holistic/menyeluruh. Dengan kata lain bahwa sebagai seorang “Safety Leaders” yang professional, maka kita harus menggunakan 5 Jenis Kecerdasan yang kita miliki saat kita memimpin para bawahan atau pengikut kita.  Adapun 5 Jenis Kecerdasan yang saya maksud adalah sbb:

  1. Kecerdasan Fisikal (Physical Quotient = PQ);
  2. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient = IQ);
  3. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient = EQ);
  4. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient = SQ); dan
  5. Kecerdasan Ruhani (Ruhani Quotient = RQ).

Kami, di SHE Care Indonesia, menggambarkan ke lima jenis kecerdasan tsb dalam bentuk sebuah model, yang kami beri nama “Model Piramida 5 Kecerdasan K3 Nusantara”.

Gambar-1.  Model “Piramida 5 Kecerdasan K3 Nusantara” – Oleh Coach Eddy

Pengenalan “Holistic Safety Leadership Coaching”

Upaya pengenalan “Holistic Safety Leadership Coaching” (HSLC) kepada para “Safety Leaders” di Nusantara ini, telah dilakukan pada tanggal 31 Maret 2020 lalu oleh SHE Care Indonesia, yang bekerjasama dengan Indonesia Safety Watch dan JLEBB Inti Karakter, serta didukung oleh WSO Indonesia, BP Jamsostek, Masterlock, Majalah ISafety dan Majalah KATIGA. Dimana upaya pengenalan HSLC ini dilakukan dalam bentuk Pra-Seminar Nasional K3 secara Online atau Pra-Webinar dan diikuti oleh sekitar 75 orang peserta.

Kegiatan pengenalan konsep “Holistic Safety Leadership Coaching” ini akan dilanjutkan kembali oleh 3 (tiga) Narasumber, yakni oleh Ir. Eddy Suprianto, M.App.Sc. (Coach Eddy) dari SHE Care Indonesia, Nunu Zainul Fuad, S.Si. (Kang Zain) dan Refdi Madepri, SE. (Pak Refdi) pada tanggal 7 April 2020 yang akan datang melalui kegiatan Seminar Nasional K3 secara Online atau Webinar dengan topik yang sama, yakni “Holistic Safety Leadership Coaching”. Yang membedakan, kegiatan Webinar tanggal 7 April 2020 nanti akan dilaksanakan selama lebih kurang 4 (empat) jam. Sedangkan kegiatan Pra-Webinar tanggal 31 Maret 2020 lalu hanya dilaksanakan selama lebih kurang 2 (dua) jam.

Selain dilaksanakan secara online dalam bentuk webinar, yang menggunakan aplikasi Zoom tersebut, juga akan dilaksanakan secara offline atau tatap muka di Jakarta Design Center pada tanggal 4 Juni 2020 yang akan datang. Selain itu kegiatan Seminar Tatap Muka ini rencananya juga akan dilaksanakan di 34 Provinsi di Indonesia secara bergiliran.

Tujuan utama dari kegiatan Webinar dan Seminar Nasional K3 bertajuk “Holistic Safety Leadership Coaching” ini adalah untuk meningkatkan kompetensi para “Safety Leaders” dalam menggunakan Teknik Safety Coaching (Teknik Bimbingan Keselamatan) agar pesan-pesan keselamatan (safety messages) yang disampaikannya dapat berjalan lebih efektif, hingga dapat merubah perilaku (behaviour) dari para bawahan atau pengikutnya dari perilaku tak aman (unsafe behaviours) menuju perilaku aman (safe behaviours), yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan Budaya K3 Nusantara tercinta Berkelas Dunia di Tahun 2020-2025 kini dan nanti.  Aamiin.

Banjarbaru, 5 April 2020

Salam K3 Nusantara,

Ir. Eddy Suprianto, M.App.Sc. (Coach Eddy)

President Director – SHE Care Indonesia (www.shecareindonesia.com)