Jika kita ingin mengetahui struktur alam semesta, maka kita bisa pelajari dari struktur partikel yang sangat kecil sebagai pembentuk materi, yaitu Atom. Atom terdiri dari inti atom dan elektron. Ternyata 99% lebih volume dari atom adalah ruang kosong, hanya kurang dari 1% yang diisi oleh inti atom dan elektron. Ruang kosong adalah gambaran sebuah kehampaan.

Atom yang sangat kecil adalah refleksi dari struktur Alam Semesta yang sangat luas, Mikrokosmos adalah refleksi dari Makrokosmos, sehingga bisa diasumsikan bahwa 99% lebih alam dari struktur semesta ini hakikatnya terdiri dari ruang kosong. Itu sebabnya kehampaan bisa menjadi jalan penyelarasan diri dengan sistem diri dan sistem semesta, sebab hampa adalah jati diri atom (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).

Ketika kita sedang merasa Hampa artinya kita sedang melayang-layang di ruang kebebasan. Itu sebabnya sedih jadi biasa, senang jadi biasa, biasa jadi terasa menyedihkan yang biasa, sedih jadi terasa menyenangkan yang biasa, sebab senang dan sedih sudah lepas dari orbitnya, lalu melayang-layang bersama kehampaan. Sedih, senang, biasa saja dan hampa.

Hampa kadang identik dengan Frustasi, padahal “frustasi yang sementara” seringkali menjadi pintu menuju “prestasi yang selamanya”. Dibalik frustasi ada prestasi. Banyak sekali orang sukses yang dulunya hampir frustasi melanjutkan perjuangan yang ditempuhnya.

Hampa bukanlah frustasi, tapi Hampa memang dekat dengan frustasi bilamana tidak segera disandarkan kepada Yang Maha Mengisi Kekuatan. Itu sebabnya bisa dikatakan “HamPA” itu kependekan dari “Hampir Putus Asa” dalam menghadapi berbagai masalah.

Ketahuilah bahwa masalah terberat itu adalah tatkala Anda harus bertarung menghadapi diri sendiri. Kapan hal itu terjadi? Jika Anda menjadi bagian dari masalah, maka Anda sedang bertarung dengan diri Anda sendiri, siapa pun pemenangnya, maka akan membuat Anda menderita.

Itu sebabnya buatlah jarak dengan masalah Anda. Jarak adalah ruang kosong. Jauhnya jarak antara elektron dan inti atom inilah yang merefleksikan adanya ruang kehampaan. Atom bisa stabil karena elektron selalu membuat jarak dengan inti atom. Inti Atom tidak pernah melekat dengan elektron. Inti atom hanya akan ditempeli oleh Elektron kalau Elektronnya diam, padahal elektron selalu bergerak karena dikendalikan oleh inti atom.

Kalau inti Atom ibarat Matahari maka Elektron itu ibarat planet-planet yang mengitarinya. Selalu ada jarak antara Matahari dan para planet yang ada. Jarak inilah yang menghasilkan ruang kosong, sehingga Matahari mampu mengendalikan para planet dari jarak jauh, cukup dengan kekuatan gravitasi yang dimilikinya.

Itu sebabnya, untuk mengendalikan masalah, maka kita jangan mau melekat dengan masalah. Kita hanya perlu mengendalikan masalah yang ada dari jarak jauh yang cukup. Nah, buatlah ruang kosong, buatlah jarak antara Anda sebagai Matahari dengan berbagai planet masalah di sekitar Anda, tapi jangan terlalu jauh, dan jangan pula terlalu dekat, secukupnya saja. Kalau terlalu jauh, maka Anda akan kesulitan memahami masalah Anda sebab masalah Anda menjadi kurang jelas atau bahkan tidak tampak, tapi kalau terlalu dekat maka Anda akan parsial melihat masalah yang ada, sebab banyak bagian masalah yang sulit terlihat. Anda hanya melihat apa yang terlihat, tidak holistik.

Ketahuilah bahwa Putus Asa atau Frustasi terjadi ketika kita terlanjur menempel atau melekat dengan masalah kita, semakin kuat melekatnya maka semakin berat masalah yang terasa. Sehinga terjadilah sebuah kesimpulan bahwa “masalah saya adalah saya” dan “saya adalah masalah”, akhirnya : melekat, terlibat, terikat, dan menjerat.

🌏 Sekarang coba perhatikan…

Kalau Anda di jalan raya sedang mengalami kemacetan, mungkin Anda merasa kesal. Tapi kalau Anda berada di atas gedung yang tinggi, lalu melihat kemacetan yang terjadi di bawah, maka mungkin Anda merasa terhibur melihat peristiwa macet yang ada. Kenapa demikian?

Karena Anda berjarak dengan peristiwa kemacetan tersebut. Nah, kalau kita punya masalah, maka buatlah jarak, jarak antara kita dan masalah kita. Katakanlah “saya adalah saya” “masalah adalah masalah”, lalu yakini “saya bukan bagian dari masalah” dan yakinilah “saya bisa melihat masalah saya dengan jelas, berjarak tapi tak menjauh kabur dari kenyataan, dekat tapi tak terlibat melekat, saya bisa mengamati dan memahami masalah saya” lalu katakanlah “masalah saya bukanlah saya, masalah saya adalah hiburan untuk saya”, dan barulah Anda lebih mudah menyelesaikan masalah Anda dengan hati yang terhibur.

🗣 Perpanjanglah jarak dengan masalah secukupnya, lalu perpendeklah jarak dengan Tuhan semampunya, masuklah ke dalam liputan-Nya secara sadar. Amatilah masalah Anda, dan amatilah bahwa diri Anda sedang diamati-Nya. Bacalah, amatilah, pahamilah, selesaikanlah!

Berikutnya coba bayangkan hal berikut ini, misalkan di saat 5 tahun ke depan kehidupan Anda sedang dalam keadaan kaya jiwa dan kaya harta, lalu Anda menengok peristiwa Anda hari ini, maka mungkin sekali Anda akan terhibur dengan mengatakan “Dulu ya, 5 tahun yang lalu, saya pernah sebulan lebih berada di rumah gara-gara Corona, sebuah pengalaman dahsyat yang tak terlupakan”.

Artinya, bencana yang kita alami beberapa tahun yang lalu, bisa jadi sebuah hiburan di saat ini. Rasa malu yang kita alami di saat berbuat salah di masa lalu, bisa jadi menjadi sebuah komedi yang menghibur kalau kita putar kembali di hari ini. Kenapa demikian? Ya, karena ada “jarak waktu” di sana.

Ya, persoalan tentang “Jarak” adalah hal yang sangat penting kita pahami di era pandemik ini. Itu sebabnya kita disuruh oleh Pemerintah dan Pemuka Agama untuk selalu “menjaga jarak”, bukan sekedar menjaga jarak dengan sesama untuk menghalau penyebaran Corona, tapi yang terpenting adalah menjaga jarak dengan berbagai peristiwa yang ada. Jadilah pengamat yang baik, amatilah, sampai Anda paham dan lahir kesadaran, sehingga Anda tetap stabil walau sedang dirundung duka atau direndang suka.

Berbagai peristiwa yang Tuhan hadirkan untuk kita, hakikatnya adalah cara Tuhan agar kita semakin berserah diri, tidak sombong. Termasuk bagaimana kita memandang kehadiran Virus Corona ini dalam kehidupan kita saat ini.

Bagi kita, Virus Corona adalah Virus yang merusak, tapi bisa jadi bagi Alam Semesta, maka orang-orang yang sombong dan merusak adalah virus yang sejati. Maka itu, seharusnyalah dengan kedatangan Virus Corona ini menjadikan kita semakin rendah hati dan berhenti menjadi penganggu keseimbangan di muka bumi.

Nah bila dengan kedatangan Corona ini Anda merasa agak frustasi, maka itu pertanda bahwa Anda sedang melakukan langkah awal proses “isi ulang”, Anda sedang mengosongkan cara hidup lama yang buruk, agar diisi dengan cara hidup baru yang baik.

David R Hawkins dalam bukunya “Power vs Force” mengungkapkan hasil penelitiannya selama 20 tahun, bahwa manusia punya dua penentu (Determinant) yaitu Power dan Force.

Secara sederhana, Power bermakna hati lapang, sedangkan Force bermakna hati sempit. Inti kesimpulan beliau adalah, semakin kita melekat dengan berbagai masalah kita maka hati kita akan sempit, energi kita akan rendah, sehingga akan mengundang berbagai realita masalah. Tetapi bila kita berjarak dengan masalah kita, maka terbentuklah ruang kosong, sehingga hati terasa lapang, dan energi pun menjadi tinggi untuk mengundang berbagai realita indah yang menyenangkan.

Nah, apa hubungannya kehampaan atau kelapangan hati ini dalam ber K3?

Para Safety Leader dan pelaku K3 sebaiknya menjalankan berbagai SOP yang ada dengan hati yang lapang dan tenang, bukang dengan hati yang sempit dan tegang. Karena kalau hati sempit, maka akan terundanglah realita kecelakaan kerja yang akan merugikan banyak pihak. Lapangkan Hati Anda maka orang-orang yang Anda pimpin akan tertular rasa lapang di hati mereka, sehingga pekerjaan dilakukan dengan akurat, nikmat, dan selamat.

Salam

KZ